Выбрать главу

Perlahan, si Slytherin mulai membengkokkan jari telunjuknya ke belakang.

Dia belum benar-benar mematahkan jariku dan itu di bawahku untuk melakukan sesuatu seperti tersentak sebelum dia mematahkannya. Sampai saat itu, ini cuma usaha lain untuk menimbulkan ketakutan.

“Stop!” kata si Slytherin yang tadi memperingatkannya. “Stop, ini adalah ide yang sangat buruk!”

“Aku juga setuju,” kata suara dingin. Suara seorang wanita yang lebih tua.

Si Slytherin melepaskan tangan Harry dan melompat ke belakang seolah terbakar.

“Profesor Sprout!” jerit salah satu dari Hufflepuff, terdengar sebegitu leganya seseorang yang Harry pernah dengar seumur hidupnya.

Ke dalam wilayah pandang Harry, saat dia berputar, berjalanlah wanita kecil, gemuk, dan pendek dengan rambut kelabu bergelung tak rapi dan berpakaian penuh dengan lumpur. Dia menunjuk jari menuduh pada para Slytherin. “Jelaskan apa ini,” dia berkata. “Apa yang kau lakukan terhadap para Hufflepuffku dan тАж .” dia melihat padanya. “Muridku yang baik, Harry Potter.”

Uh oh. Memang benar, itu adalah kelasNYA yang aku lewatkan pagi ini.

“Dia mengancam untuk membunuh kami!” sembur satu dari para Slytherin, orang yang sama yang meminta menghentikan.

“Apa?” kata Harry kosong. “Aku tak pernah! Kalau aku berniat membunuhmu aku tak akan membuat ancaman publik terlebih dulu!”

Slytherin ketiga tertawa tak tertolong dan kemudian terhenti seketika saat anak yang lain memberinya tatapan mematikan.

Profesor Sprout sudah memakai ekspresi skeptis. “Dan ancaman kematian apa ini, tepatnya?”

“Kutukan Pembunuh! Dia berpura-pura menggunakan Kutukan Pembunuh pada kami!”

Profesor Sprout berputar untuk melihat pada Harry. “Ya, itu ancaman yang cukup mengerikan datang dari anak berumur sebelas. Walau tetap bukan sesuatu yang akan pernah kau mimpikan untuk berpura-pura gunakan, Harry Potter.”

“Aku bahkan tak tahu kata-kata dari Kutukan Pembunuh,” kata Harry secepatnya. “Dan aku tak pernah mengeluarkan tongkat sihirku.”

Sekarang Profesor Sprout memberi Harry pandangan skptis. “Jadi bocah ini melempar dirinya sendiri dengan dua pie kalau begitu.”

“Dia tidak menggunakan tongkatnya!” sembur salah satu dari Hufflepuff muda. “Aku juga tak tahu bagaimana dia melakukannya, dia hanya menjentikkan jarinya dan kemudian muncul pie!”

“Benar,” kata Profesor Sprout setelah satu jeda. Dia mengulurkan tongkat sihirnya sendiri. “Aku tak membutuhkannya, karena kamu memang terlihat sebagai korban di sini, namun apakah kamu keberatan kalau aku memeriksa tongkat sihirmu untuk memastikannya?”

Harry mengeluarkan tongkat sihirnya. “Apa yang akuтАУ”

“Prior Incantato,” kata Sprout. Dia mengerutkan dahi. “Ini aneh, tongkat sihirmu sepertinya belum pernah digunakan sama sekali.”

Harry mengangkat bahu. “Memang belum, sebenarnya, aku baru saja mendapat tongkat sihir dan buku-buku sekolahku beberapa hari lalu.”

Sprout mengangguk. “Kalau begitu kita punya kasus jelas atas sihir tak sengaja dari anak yang merasa terancam. Dan aturan jelas menyatakan kalau kau tidak bertanggung jawab. Dan untuk kau тАж .” dia berbalik pada para Slytherin. Matanya jatuh dengan sengaja pada buku-buku Neville yang berserakan di lantai.

Ada kesunyian panjang selama dia melihat pada kelima Slytherin.

“Tiga poin dari Slytherin, masing-masing,” dia berkata akhirnya. “Dan enam dari dia,” menunjuk pada anak yang tertutup pie. “Jangan pernah kau mencampuri urusan Hufflepuffku lagi, atau muridku Harry Potter juga. Sekarang pergi.”

Dia tak perlu mengulangi kata-katanya; para Slytherin berputar dan melarikan diri dengan cepat.

Nevilla pergi dan mulai mengambil buku-bukunya. Dia sepertinya menangis, tapi hanya sedikit. Itu mungkin dari keterkejutan yang tertunda, atau itu mungkin juga karena anak-anak lain menolongnya.

“Terima kasih banyak, Harry Potter,” kata Profesor Sprout padanya. “Tujuh poin untuk Ravenclaw, satu untuk tiap Hufflepuff yang kamu lindungi. Dan aku tak akan berkata apa-apa lagi.”

Harry berkedip. Dia sepertinya mengharapkan seseuatu yang semacam kalimat ceramah tentang menjaga dirinya dari masalah, dan mungkin teguran keras karena melewatkan kelas pertamanya.

Mungkin dia harusnya masuk Hufflepuff. Sprout itu keren.

“Scourgify,” kata Sprout pada pie yang berserakan di lantai, yang dengan cepat menghilang.

Dan dia pergi, berjalan melewati lorong yang menuju ruang belajar hijau.

“Bagaimana kamu melakukan itu?” desis salah satu anak Hufflepuff sesaat sesudah Sprout pergi.

Harry tersenyum sombong. “Aku bisa membuat apapun yang aku mau terjadi hanya dengan menjentikkan jariku.”

Mata bocah itu melebar. “Benarkah?”

“Tidak,” kata Harry. “tapi kalau kamu menceritakan cerita ini pada semua orang pastikan kamu menceritakan pada Hermione Granger murid tahun pertama Ravenclaw, dia punya satu anekdot yang kamu mungkin anggap menghibur.” Dia benar-benar tak tahu apa yang terjadi, tapi dia tidak akan melewatkan kesempatan untuk menambahkan pada legendanya yang sedang tumbuh. “Oh, dan apa itu maksudnya dengan Kutukan Pembunuh?”

Si anak itu memberinya pandangan aneh. “Kamu benar-benar tak tahu?”

“Kalau aku tahu, aku tak akan bertanya.”

“Kata-kata dari Kutukan Pembunuh adalah,” si bocah menelan ludah, dan suaranya jatuh jadi bisikan, dan dia mengangkat kedua tangannya dari sisinya seolah membuat jelas kalau dia tidak sedang memegang tongkat sihir, “Avada Kedavra.”

Yah, tentu saja itu kata-katanya.

Harry menempatkan ini pada daftarnya yang terus bertambah atas hal-hal yang tak akan pernah dia ceritakan pada Dad, Profesor Michael Verres-Evans. Sudah cukup buruk membicarakan bagaimana kau adalah satu-satunya orang yang selamat dari Kutukan Pembunuh yang menakutkan, tanpa harus mengakui bahwa Kutukan Pembunuh adalah “Abrakadabra.”

“Aku paham,” kata Harry setelah jeda. “Yah, itu adalah kali terakhir aku akan mengatakan itu sebelum menjentikkan jariku.” Walau itu sudah menghasilkan efek yang mungkin berguna secara taktis.

“Kenapa kamuтАУ”

“Dibesarkan oleh Muggle, Muggle menganggap itu sebagai gurauan dan bahwa itu lucu. Serius, itulah yang terjadi. Maaf, tapi bisakah kau mengingatkan aku siapa namamu?”

“Aku Ernie Macmillan,” kata si Hufflepuff. Dia mengulurkan tangannya, dan Harry menjabatnya. “Aku merasa terhormat bertemu denganmu.”

Harry melakukan bungkukan singkat. “Senang bertemu denganmu, lewatkan masalah terhormatnya.”

Kemudian anak-anak lain mengerumuni dia dan ada banjir perkenalan seketika.

Kemudian mereka selesai, Harry menelan ludah. Ini akan jadi sangat sukar. “Um тАж kalau kalian bisa mempersilakan aku тАж aku harus mengatakan sesuatu pada Neville тАУ”

Semua mata berputar pada Neville, yang mengambil langkah mundur, wajahnya terlihat gelisah.

“Aku pikir,” Neville berkata dalam suara kecil, “kau akan berkata kalau aku harusnya lebih beraniтАУ”

“Oh, tidak, bukan itu!” kata Harry dengan cepat. “Tak ada hubungannya dengan itu. Ini cuma, um, sesuatu yang Topi Seleksi katakan padakuтАУ”

Seketika anak-anak yang lain terlihat sangat tertarik, kecuali untuk Neville, yang terlihat lebih gelisah.

Sepertinya ada yang menghalangi tenggorokan Harry. Dia tahu dia harusnya langsung mengeluarkannya, dan itu bagaikan seperti dia sedang menelan bata besar yang tersangkut di tengah-tengah.

Itu bagaikan seperti Harry harus dengan sadar mengambil kontrol bibirnya dan menghasilkan tiap suku kata satu demi satu, tapi dia berhasil membuatnya terjadi. “A, ku, min, ta, ma, af.” Dia membuang napas dan mengambil napas panjang. “Untuk apa yang sudah kulakukan, um, di hari itu. Kau тАж tak harus merasa tak enak tentangnya atau apa, aku mengerti kalau kamu membenciku. Ini bukan tentang aku mencoba terlihat keren dengan meminta maaf atau kamu yang harus menerimanya. Apa yang kulakukan itu salah.”