“Tn. Potter?” kata Profesor McGonagall. “Ada apa ini?”
Pikiran Harry berubah kosong. Dia sudah diinstruksikan oleh permainan tadi untuk datang kemari, dia justru mengharapkan si Profesor yang punya sesuatu untuk dibicarakan тАж .
“Tn. Potter?” kata Profesor McGonagall, terlihat mulai terlihat sedikit jengkel.
Untungnya, otak Harry yang panik di titik ini ingat bahwa dia memang punya sesuatu yang dia sudah rencanakan untuk didiskusikan dengan Profesor McGonagall. Sesuatu yang penting dan jelas cukup layak untuk membuatnya menyempatkan waktu.
“Um тАж .” kata Harry. “Kalau ada mantra apa pun yang bisa kamu gunakan supaya tak ada orang lain yang bisa mendengarkan kita тАж .”
Profesor McGongall berdiri dari kursinya, menutup rapat pintu luar, dan mulai mengeluarkan tongkat sihirnya dan mengucapkan mantra-mantra.
Di saat inilah Harry menyadari dia sedang berhadapan dengan kesempatan tak ternilai dan kemungkinan tak tergantikan untuk menawari Profesor McGonagall satu Comed-Tea dan dia tak percaya bahwa dia benar-benar berpikiran seperti itu dan itu tak masalah sodanya akan menghilang setelah beberapa detik dan dia berkata pada bagian itu dari dirinya untuk tutup mulut.
Dia diam, dan Harry mulai menata secara mental apa yang ingin dia katakan. Dia tak merencanakan untuk melakukan diskusi secepat ini, namun selama dia ada di sini тАж
Profesor McGongall selesai mengucapkan mantra yang terdengar lebih tua dari Latin, dan kemudian dia duduk lagi.
“Baiklah,” katanya dalam suara tenang. “Tak ada yang akan mendengarkan.” Wajahnya terlihat sedikit tegang.
Oh, benar, dia mengharapkan aku untuk memerasnya atas informasi tentang ramalan.
Eh, Harry akan sampai ke masalah itu lain kali.
“Ini tentang Insiden dengan Topi Seleksi,” kata Harry. (Profesor McGongall berkedip.) “Um тАж aku pikir ada mantra tambahan pada Topi Seleksi, sesuatu yang si Topi Seleksi sendiri tak tahu tentangnya, sesuatu yang dipicu ketika Topi Seleksi mengatakan Slytherin. Aku mendengar satu pesan yang aku yakin seorang Ravenclaw tak seharusnya mendengarkan. Itu terdengar di saat Topi Seleksi lepas dari kepalaku dan aku merasakan koneksinya terputus. Itu terdengar seperti desisan dan Bahasa Inggris di saat yang sama,” ada tarikan napas tajam dari Profesor McGonagall, “dan itu berkata: Salam dari Slytherin untuk Slytherin: kalau kamu ingin mencari semua rahasiaku, bicara dengan ularku.”
Profesor McGonagall duduk di sana dengan mulut yang terbuka, memandang Harry seolah dia memiliki dua kepala tambahan.
“Jadi тАж .” Profesor McGonagall berkata perlahan, seolah dia tak percaya kata-kata yang keluar dari bibirnya sendiri, “kamu memutuskan untuk datang langsung kepadaku dan memberitahuku tentangnya.”
“Yah, iya, tentu saja,” kata Harry. Tak perlu mengakui seberapa lama waktu untuknya benar-benar berpikir ke situ. “Bukannya, sebut saja, mencoba menelitinya sendiri, atau menceritakan anak-anak yang lain.”
“Aku тАж paham,” kata Profesor McGonagall. “Dan kalau, misalnya, kau menemukan pintu masuk ke Kamar Rahasia legendaris milik Salazar Slytherin, pintu masuk yang hanya kamu dan kamu sendiri yang mampu membukanya тАж .”
“Aku akan menutup pintu masuk itu dan melaporkannya padamu secepatnya sehingga satu tim arkeolog magis berpengalaman bisa terkumpul,” kata Harry dengan cepat. “Kemudian aku akan membuka pintu itu lagi dan mereka akan masuk dengan hati-hati untuk memastikan bahwa tak ada hal yang berbahaya. Aku nanti mungkin akan masuk untuk melihat-lihat, atau kalau mereka membutuhkanku untuk membuka sesuatu yang lain, namun itu akan kulakukan setelah areanya sudah dinyatakan bersih dan mereka sudah memiliki foto-foto atas bagaimana semua hal terlihat sebelum orang-orang mulai menginjak-injak di sekitar situs historis tak ternilai mereka.”
Profesor McGonagall duduk di sana dengan mulut yang terbuka, memandang padanya seolah dia baru saja berubah jadi kucing.
“Langkah ini sangat kentara kalau kamu bukan seorang Gryffindor,” kata Harry ramah.
“Aku pikir,” kata Profesor McGonagall dalam suara yang sedikit tercekat, “bahwa kamu teramat meremehkan kelangkaan atas akal sehat, Tn. Potter.”
Itu terdengar cukup benar. Walau тАж . “Seorang Hufflepuff juga akan mengatakan hal yang sama.”
McGonagall berhenti, terkejut. “Itu benar.”
“Topi Seleksi menawariku Hufflepuff.”
Profesor McGonagall berkedip padanya seolah tak mempercayai telinganya sendiri. “Apa itu benar?”
“Ya.”
“Tn. Potter,” kata McGonagall, dan sekarang suaranya rendah, “lima dekade yang lalu adalah kali terakhir seorang murid meninggal di dalam dinding-dinding Hogwarts, dan aku sekarang yakin bahwa lima dekade yang lalu adalah kali terakhir seseorang mendengar pesan itu.”
Dingin merasuki Harry. “Kalau begitu aku akan benar-benar yakin untuk tak melakukan apa pun atas masalah ini tanpa berkonsultasi denganmu, Profesor McGonagall.” Dia berhenti. “Dan bisakah aku mengusulkan supaya anda mengumpulkan orang-orang terbaik yang bisa anda dapatkan dan melihat apakah mungkin untuk mengeluarkan mantra tambahan itu dari Topi Seleksi тАж dan kalau kamu tak bisa melakukannya, mungkin tempatkan mantra lain, satu Quietus yang secara singkat aktif saat si Topi dilepas dari kepala murid, itu mungkin akan bekerja sebagai tambalan. Nah, tak akan ada lagi murid yang mati.” Harry mengangguk dalam kepuasan.
Profesor McGonagall sekarang terlihat lebih tercengang, kalau hal itu bisa dibayangkan. “Aku tak mungkin menghadiahimu cukup poin tanpa langsung memberikan Piala Asrama pada Ravenclaw.”
“Um,” kata Harry. “Um. Aku lebih baik tak menerima sebegitu banyak poin Asrama.”
Sekarang Profesor McGonagall memberinya pandangan aneh. “Kenapa tidak?”
Harry memiliki sedikit kesulitan menempatkannya dalam kata-kata. “Karena itu akan jadi terlalu menyedihkan, kau tahu? Seperti тАж seperti dulu ketika aku masih sekolah dalam dunia Muggle, dan kapan pun ada proyek kelompok, aku akan lansung saja dan mengerjakan semuanya seorang diri karena yang lain hanya akan memperlambatku. Aku tak masalah dengan memperoleh banyak poin, lebih dari orang lain malah, tapi kalau aku memperoleh yang cukup banyak untuk jadi penentu dalam memenangkan Piala Asrama hanya karena aku sendiri, maka itu seolah seperti aku membawa Asrama Ravenclaw dalam bahuku dan itu terlalu menyedihkan.”
“Aku paham тАж .” kata McGonagall dengan ragu. Terlihat jelas kalau cara pikir seperti ini tak pernah terlintas di pikirannya. “Misal aku hanya memberimu lima puluh poin, kalau begitu?”
Harry menggeleng kepalanya lagi. “Itu tak adil bagi anak-anak yang lain kalau aku memperoleh banyak poin karena hal-hal dewasa yang aku bisa ambil bagian dan mereka tidak. Bagaimana Terry Boot bisa memperoleh lima puluh poin karena melaporkan satu bisikan yang dia dengar dari Topi Seleksi? Itu tak akan adil sama sekali.”
“Aku paham kenapa Topi Seleksi menawarimu masuk ke Hufflepuff,” kata Profesor McGonagall. Dia melihat Harry dengan pandangan hormat aneh.
Itu membuat Harry tercekat sedikit. Dia benar-benar merasa kalau dia tak pantas untuk Hufflepuff. Bahwa si Topi Seleksi hanya mencoba untuk mendorongnya ke tempat mana pun selain Ravenclaw, ke dalam Asrama yang sifat utamanya tak dia miliki тАж .
Profesor McGonagall tersenyum sekarang. “Dan kalau aku coba memberimu sepuluh poin тАж ?”
“Apakah kamu akan menjelaskan dari mana asal sepuluh poin itu, kalau ada yang bertanya? Ada banyak Slytherin, dan aku tak merujuk pada anak-anak di Hogwarts, yang akan jadi sangat sangat marah kalau mereka tahu tentang mantra itu dicabut dari Topi Seleksi dan mengetahui kalau aku terlibat. Jadi aku pikir bahwa kerahasiaan absolut adalah bagian yang lebih baik atas keberanian. Tak perlu berterima kasih padaku, ma’am, kebijakan adalah hadiah itu sendiri.”
“Baiklah kalau begitu,” kata Profesor McGonagall, “namun aku memang mempunyai sesuatu yang spesial lainnya untuk kuberikan padamu. Aku lihat kalau aku sudah banyak salah menilaimu dalam pikiranku, Tn. Potter. Tolong tunggu di sini.”