Harry sedikit kebingungan. “Tapi ini bisa jadi penting, kemarin aku merasakan suatu firasat malapetaka tiba-tiba ketikaтФА”
“Tn. Potter! Aku juga punya firasat malapetaka sendiri! Dan firasat malapetakaku menyarankan bahwa kau tidak boleh menyelesaikan kalimat itu!”
Mulut Harry terbuka lebar. Profesor McGonagall sudah berhasil; Harry terdiam.
“Tn. Potter,” kata Profesor McGonagall, “kalau kamu sudah menemukan apa pun yang terlihat menarik tentang Profesor Quirrell, silakan saja membaginya denganku atau siapa saja. Sekarang aku pikir kau sudah mengambil waktu berhargaku cukup banyakтФА”
“Ini tidak sepertimu!” Harry meledak. “Aku minta maaf tapi itu terlihat luar biasa tak bertanggung jawab! Dari apa yang sudah aku dengar ada suatu kutukan atas posisi Pertahanan, dan jika kamu sudah mengetahui sesuatu akan berakhir buruk, kupikir kamu harus terus waspadaтФА”
“Berakhir buruk, Tn. Potter? Aku jelas harap tidak.” Wajah Profesor McGonagall terlihat tanpa ekspresi. “Setelah Profesor Blake tertangkap basah di dalam kloset bersama tidak kurang dari tiga Slytherin tahun kelima Februari lalu, dan setahun sebelumnya, Profesor Summers benar-benar sebegitu gagalnya sebagai seorang pengajar hingga para murid wanita itu mengira kalau Boggart adalah sejenis perabotan, akan jadi bencana besar jika ada masalah dengan Profesor Quirrell yang luar biasa kompeten ini bisa sampai ke telingaku sekarang, dan aku berani mengatakan kalau sebagian besar murid kita akan gagal dalam O.W.L. dan N.E.W.T. Pertahanan mereka.”
“Aku mengerti,” kata Harry perlahan, menyerap semua ini. “Jadi dengan kata lain, apa pun yang salah dengan Profesor Quirrell, kau mati-matian tak mau tahu tentangnya sampai akhir tahun ajaran sekolah. Dan karena saat ini kebetulan adalah September, dia bisa membunuh Perdana Menteri di siaran langsung televisi dan lepas dari tanggung jawab sejauh yang anda peduli.”
Profesor McGonagall memandangnya tak berkedip. “Aku yakin kalau aku tak akan bernah terdengar mendukung pernyataan semacam itu, Tn. Potter. Di Hogwarts kami berusaha keras untuk menjadi proaktif mengenai hal-hal apa pun yang mengancam pencapaian pendidikan dari para murid kami.”
Seperti misalnya tahun pertama Ravenclaw yang tak bisa menjaga mulutnya. “Aku yakin aku benar-benar mengerti maksudmu, Profesor McGonagall.”
“Oh, aku meragukannya, Tn. Potter. Aku amat sangat meragukannya.” Profesor McGonagall mencondongkan tubuhnya ke depan, wajahnya kembali tegang. “Karena kau dan aku sudah membicarakan hal yang jauh lebih sensitif dari ini, aku akan bicara terus terang. Kau, dan kau sendiri, yang sudah melaporkan firasat malapetaka misterius ini. Kau, dan kau sendiri, yang merupakan magnet hal-hal yang tak pernah kulihat. Setelah perjalanan belanja kecil kita ke Diagon Alley, dan kemudian Topi Seleksi, dan kemudian episode kecil hari ini, aku bisa dengan jelas meramalkan bahwa aku ditakdirkan untuk duduk di kantor Kepala Sekolah dan mendengarkan kisah-kisah menggelikan tentang Profesor Quirrell yang mana kau dan kau sendiri yang memainkan peran utamanya, yang setelahnya aku tak punya pilihan lain kecuali memecatnya. Aku sudah mundur sampai titik itu, Tn. Potter. Dan jika situasi menyedihkan ini sampai terjadi lebih awal dari Ides bulan Mei, aku akan mengikatmu di gerbang-gerbang Hogwarts memakai ususmu sendiri dan menuang kumbang api ke dalam hidungmu. Sekarang, apa kau benar-benar mengerti?”
Harry mengangguk, matanya benar-benar lebar. Kemudian setelah sedetik, “Apa yang aku peroleh kalau aku bisa membuat itu terjadi di hari terakhir tahun sekolah?”
“Keluar dari kantorku!”
*
Kamis.
Pasti ada sesuatu tentang hari Kamis di Hogwarts.
Itu adalah 5:32 pm kamis sore, dan Harry berdiri di samping Profesor Flitwick, di depan batu gargoyle besar yang menjaga pintu masuk kantor Kepala Sekolah.
Tidak lebih cepat dia kembali dari kantor Profesor McGonagall ke ruang belajar Ravenclaw daripada salah satu dari para murid memberitahunya untuk melapor ke kantor Profesor Flitwick, dan di sana dia mengetahui kalau Dumbledore ingin berbicara dengannya.
Harry, merasa sedikit gelisah, sudah bertanya pada Profesor Flitwick apakah Kepala Sekolah sudah mengatakan tentang masalah apa ini.
Profesor Flitwick mengangkat bahu dalam gaya seolah tak berdaya.
Sepertinya Dumbledore mengatakan kalau Harry terlalu muda untuk memanggil sabda kuasa dan kegilaan.
Happy happy boom boom swamp swamp swamp? Harry memikirkannya tapi tak mengatakan dengan keras.
“Tolong jangan terlalu khawatir, Tn. Potter,” decit Profesor Flitwick dari suatu tempat di sekitar pundak Harry. (Harry bersyukur atas jenggot besar menggembung Profesor Flitwick, sukar membiasakan diri dengan Profesor yang bukan hanya lebih pendek dari dirinya tapi juga berbicara dalam suara bernada tinggi.) “Kepala Sekolah Dumbledore mungkin terlihat sedikit aneh, atau sangat aneh, atau luar biasa aneh, namun dia tidak pernah menyakiti seorang murid sedikit pun, dan aku tak percaya dia akan pernah.” Profesor Flitwick memberi Harry senyuman penyemangat. “Ingat saja hal itu di benakmu setiap waktu dan kamu pasti tidak akan panik!”
Ini tak membantu.
“Semoga beruntung!” decit Profesor Flitwick, dan mencondongkan diri ke arah gorgoyle dan mengucapkan sesuatu yang Harry entah mengapa tak bisa dengar sama sekali. (Tentu saja, kata sandi tak akan banyak berguna kalau kamu bisa mendengar seseorang mengatakannya.) dan gorgoyle batu itu berjalan minggir dengan gerakan yang sangat alami dan biasa hingga Harry menganggapnya sedikit mengejutkan, karena gargoyle itu tetap terlihat seperti batu padat, tak bergerak selama pergerakan itu.
Di belakang gargoyle itu ada satu set tangga spiral yang berputar perlahan. Ada sesuatu yang hipnotis mengganggu tentangnya, dan yang lebih mengganggu adalah bahwa spiral yang berputar harusnya tak membawamu ke mana pun.
“Ayo naiklah!” decit Flitwick.
Harry melangkah dengan sedikit gugup ke dalam spiral, dan menemukan dirinya, untuk alasan tertentu yang sama sekali tak mampu dibayangkan otaknya, bergerak ke atas.
Gargoyle itu berdebam kembali ke tempat asalnya di belakang Harry, dan tangga spiral terus berputar dan Harry terus naik lebih tinggi, dan setelah waktu yang sedikit memusingkan, Harry menemukan dirinya di depan pintu dari kayu ek dengan pengetuk grifon kuningan.
Harry meraihnya dan memutar kenop pintu.
Pintu itu mengayun terbuka.
Dan Harry melihat ruangan yang paling menarik yang pernah dia lihat sepanjang hidupnya.
Ada mekanisme-mekanisme metal kecil yang mendesir atau berdetak atau perlahan berubah bentuk atau mengeluarkan awan-awan asap kecil, merembes, berubah warna, atau berubah jadi bentuk menarik yang menghilang setengah detik setelah kau melihatnya. Ada benda-benda yang seperti jam dengan banyak tangan, bertuliskan angka-angka atau dalam bahasa yang tak dikenal. Ada gelang yang tersemat satu kristal lenticular yang berkilau dengan ribuan warna, dan seekor burung bertengger di atas panggung emas, dan cangkir emas berisi sesuatu yang terlihat seperti darah, dan satu patung elang yang bertatahkan enamel hitam. Dindingnya penuh terpajang gambar-gambar orang tertidur, dan Topi Seleksi dengan santai terduduk di rak topi yang juga jadi tempat dua payung dan tiga sandal merah untuk kaki kiri.
Di tengah-tengah semua kekacauan ini ada meja dari kayu ek hitam bersih. Di depan meja ada bangku dari kayu ek. Dan di belakang meja ada tahta yang terbantal dengan baik berisi Albus Percival Wulfric Brian Dumbledore, yang dihiasi jenggot perak panjang, topi yang seperti jamur gepeng raksasa, dan sesuatu yang terlihat bagi mata Muggle seperti tiga lapis piyama pink cerah.
Dumbledore tersenyum, dan mata cerahnya berkelip dengan intensitas gila.
Dengan sedikit gentar, Harry mendudukkan diri di depan meja. Pintu mengayun tertutup di belakangnya dengan thunk keras.