Выбрать главу

“Halo, Herry,” kata Dumbledore.

“Halo, Kepala Sekolah,” jawab Harry. Jadi apakah mereka dalam hubungan nama pertama? Apakah Dumbledore sekarang meminta untuk Harry memanggilnyaтАУ

“Tolong, Harry!” kata Dumbledore. “Kepala Sekolah terdengar terlalu formal. Panggil saja aku Keps untuk pendeknya.”

“Aku pasti akan, Keps,” kata Harry.

Ada jeda singkat.

“Apa kau tahu,” kata Dumbledore, “kaulah orang pertama yang benar-benar menganggapiku serius atas hal tadi?”

“Ah тАж .” kata Harry. Dia mencoba mengendalikan suaranya dengan perasaan tenggalam tiba-tiba di perutnya. “Aku minta maaf, aku, ah, Kepala Sekolah, kau menyuruhku melakukannya jadi kulakukanтАУ”

“Keps, tolong!” kata Dumbledore riang. “Dan tak ada panggilan yang perlu dikhawatirkan, aku tak akan melemparkanmu keluar dari jendela hanya karena kau membuat satu kesalahan. Aku akan memberimu benyak peringatan lebih dulu, kalau kau melakukan sesuatu yang salah! Lagi pula, apa yang penting bukanlah bagaimana cara seseorang berbicara denganmu, tapi apa yang mereka pikir tentangmu.”

Dia tak pernah melukai seorang murid, ingat saja itu dan kamu pasti tak akan panik.

Dumbledore mengambil kotak metal kecil dan membukanya, menunjukkan gundukan kuning kecil “Serbat lemon?” kata sang Kepala Sekolah.

“Er, tidak terima kasih, Keps,” kata Harry. Apakah memberi LSD diam-diam pada seorang murid terhitung sebagai melukai mereka, atau apakah itu masuk ke dalam kategori kesenangan tak berbahaya?” “Anda, um, mengatakan sesuatu tentangku masih terlalu muda untuk memanggil sabda kuasa dan kegilaan?”

“Bahwa kamu jelas memang!” kata Dumbledore. “Untungnya Sabda Kuasa dan Kegilaan sudah hilang tujuh abad yang lalu dan tak ada orang yang punya sedikit pun gagasan atas apa bentuk mereka sekarang. Itu cuma sekadar ucapan kecil saja.”

“Ah тАж .” kata Harry. Dia sadar kalau mulutnya terbuka. “Kenapa kau memanggilku kemari, kalau begitu?”

“Kenapa?” Dumbledore mengulangi. “Ah, Harry, jika aku berkeliling sepanjang hari menanyakan kenapa aku melakukan suatu, aku tak akan punya waktu untuk menyelesaikan satu hal pun! Aku ini orang yang cukup sibuk, kau tahu.”

Harry mengangguk, tersenyum. “Ya, itu adalah daftar yang sangat mengesankan. Kepala Sekolah Hogwarts, Chief Warlock dalam Wizengamot, dan Supreme Mugwump atas Konfederasi Internasional Penyihir. Maafkan pertanyaanku tapi aku ingin tahu, apakah mungkin mendapatkan lebih dari enam jam kalau kamu memakai lebih dari satu Time-Turner? Karena cukup mengagumkan jika kau melakukan semua itu hanya dalam tiga puluh jam sehari.”

Ada sedikit jeda lain, yang selama itu Harry terus tersenyum. Dia sedikit gelisah, sebenarnya sangat gelisah, namun begitu semua sudah jelas kalau Dumbledore dengan sengaja bermain-main dengannya, sesuatu di dalam Harry benar-benar menolak untuk duduk dan menerimanya bagai gumpalan tak berdaya.

“Aku takut Waktu tak suka terlalu diregangkan,” kata Dumbledore setelah sedikit jeda, “dan tetap diri kita sendiri sepertinya sedikit terlalu lebar untuknya, dan adalah pergumulan konstan untuk menyesuaikan kehidupan kita ke dalam Waktu.”

“Memang,” kata Harry dengan kekhidmatan suram. “Itulah kenapa adalah paling baik untuk sampai pada maksud kita secepatnya.”

Untuk sesaat Harry penasaran apakah dia sudah melangkah terlalu jauh.

Kemudian Dumbledore tertawa kecil. “Langsung ke intinya kalau begitu.” Sang Kepala Sekolah mencondongkan tubuhnya, memiringkan topi jamur gepengnya dan menggosok jenggotnya ke atas mejanya. “Harry, Senin ini kamu melakukan sesuatu yang akan mustahil bahkan dengan Time-Turner. Atau mungkin, mustahil dengan hanya Time-Turner. Dari mana asal kedua pie itu, aku penasaran?”

Sentakan adrenalin mengaliri Harry. Dia melakukannya memakai Jubah Gaib, yang diberikan kepadanya dalam kotak Natal bersama satu catatan, dan catatan itu berkata: kalau Dumbledore melihat kesempatan untuk memiliki salah satu dari Relikui Kematian, dia tidak akan pernah membiarkannya lepas dari genggamannya тАж .

“Pemikiran yang wajar,” Dumbledore melanjutkan, “adalah karena tak ada tahun pertama saat ini yang mampu menggunakan mantra semacam itu, ada orang lain di sana, akan tetapi tak terlihat. Dan jika tak ada orang yang bisa melihat mereka, yah, akan cukup mudah bagi mereka untuk melemparkan pie-pie itu. Seseorang bisa saja mencurigai lebih lanjut bahwa karena kamu memiliki Time-Turner, kamulah orang tak terlihat itu; dan karena mantra Disillusionment adalah jauh di atas kemampuanmu sekarang, kamu memiliki jubah yang membuatmu tak terlihat.” Dumbledore tersenyum penuh konspirasi. “Apa aku dalam jalur yang benar sejauh ini, Harry?”

Harry membeku. Dia punya perasaan bahwa bohong terang-terangan adalah sama sekali tak bijak, dan mungkin tak sedikit pun membantu, dan dia tak bisa memikirkan apa pun yang lain untuk diucapkan.

Dumbledore melambaikan tangan bersahabat. “Jangan khawatir, Harry, kamu belum melakukan sesuatu yang salah. Jubah penghilang tidak melawan aturanтАУaku pikir mereka cukup langka hingga tak ada yang pernah memikirkan untuk menempatkan mereka dalam daftar. Tapi aku penasaran tentang sesuatu yang benar-benar berbeda.”

“Oh?” kata Harry dalam suara paling normal yang bisa dia lakukan.

Mata Dumbledore menyala dengan antusias. “Kamu tahu, Harry, setelah kamu melalui beberapa petualangan kamu cenderung untuk mulai memahami hal-hal macam ini. Kamu mulai melihat polanya, mendengar irama dari dunia ini. Kamu mulai melabuhkan kecurigaan-kecurigaan sebelum saat munculnya penyataan. Kau adalah Anak Laki-Laki yang Bertahan Hidup, dan entah bagaimana suatu jubah penghilang berhasil sampai ke tanganmu empat hari setelah kau menemukan Inggris magis kami. Jubah macam itu tak dijual di Diagon Alley, tapi ada satu yang mungkin menemukan jalannya sendiri kepada pengguna yang sudah ditakdirkan. Dan aku tak bisa menahan ingin tahuku kalau atas kemungkinan aneh kamu bukan hanya menemukan suatu jubah penghilang, tapi malah Jubah Gaib, salah satu dari tiga Relikui Kematian dan dikabarkan mampu menyembunyikan pemakainya dari penglihatan sang Kematian itu sendiri.” Tatapan Dumbledore begitu cerah dan bersemangat. “Boleh aku melihatnya, Harry?”

Harry menelan. Ada luapan penuh adrenalin dalam sistemnya sekarang dan itu semua benar-benar tak berguna, ini adalah penyihir paling kuat di dunia dan tak mungkin ada cara dia bisa sampai ke pintu dan tak ada tempat di Hogwarts untuknya bersembunyi kalaupun dia berhasil sampai, dia akan kehilangan Jubah yang sudah diwariskan melalui keturunan Potter untuk entah siapa yang tahu berapa lamaтАУ

Perlahan Dumbledore menegakkan diri lagi ke kursi tingginya. Cahaya cerah sudah hilang dari matanya, dan dia terlihat bingung dan sedikit sedih. “Harry,” kata Dumbledore, “kalau kamu tak mau, kamu tinggal berkata tidak.”

“Aku boleh?” Harry dengan suara serak.

“Ya, Harry,” kata Dumbledore. Suaranya terdengar sedih sekarang, dan cemas. “Sepertinya kau takut terhadapku, Harry. Boleh aku bertanya apa yang sudah kulakukan sampai memperoleh ketidakpercayaan darimu?”

Harry menelan. “Apakah ada cara untukmu berjanji suatu sumpah magis yang mengikat bahwa kamu tak akan mengambil jubahku?”

Dumbledore menggeleng kepalanya perlahan. “Sumpah Tak-Terlanggar tak boleh dipakai semudah itu. Dan lagipula, Harry, kalau kau belum tahu mantranya, kamu hanya memperoleh kata-kataku saja kalau mantranya mengikat. Dan juga aku yakin kau sadar bahwa aku tidak perlu izinmu untuk melihat Jubah itu. Aku cukup kuat untuk membawanya keluar sendiri, kantong mokeskin atau tidak.” Wajah Dumbledore sangat muram. “Namun ini aku tak akan lakukan. Jubah itu adalah milikmu, Harry. Aku tak akan merampasnya darimu. Bahkan tak akan melihatnya untuk sesaat, kecuali kamu memutuskan untuk menunjukkannya padaku. Itu adalah suatu janji dan sumpah. Kalau aku perlu melarangmu dari menggunakannya dalam wilayah sekolah, aku akan memerlukanmu untuk pergi ke brankasmu di Gringotts dan menyimpannya di sana.”