“Ah тАж .” kata Harry. Dia menelan keras, mencoba menenangkan banjir adrenalin dan berpikir wajar. Dia mengambil kantong mokeskin dari ikat pinggangnya. “Kalau kau memang tidak memerlukan izinku тАж maka silakan.” Harry mengulurkan kantongnya pada Dumbledore, dan menggigit keras bibirnya, mengirimkan sinyal itu pada dirinya sendiri kalau misalnya dia dikenai Obliviate setelahnya.
Sang penyihir tua memasukkan tangan ke dalam kantong itu, dan tanpa mengucapkan kata pemanggilan apa pun, mengeluarkan Jubah Gaib.
“Ah,” Dumbledore melepas napas. “Aku memang benar тАж .” Dia mencurahkan tenunan beludru hitam melewati tangannya. “Berabad-abad usianya, dan tetap sesempurna saat hari dia dibuat. Kita sudah kehilangan sebegitu banyak seni kita sepanjang tahun, dan sekarang aku sendiri tak mampu membuat yang semacam ini, tak ada yang bisa. Aku bisa merasakan kekuatannya seperti gema dalam pikiranku, seperti sebuah lagu yang selamanya dinyanyikan tanpa ada yang mendengar тАж .” Sang penyihir mengangkat pandangannya dari Jubah itu. “Jangan menjualnya,” katanya, “jangan memberikannya pada siapa pun sebagai hak milik. Pikirkan dua kali sebelum kau menunjukkannya pada siapa pun, dan renungkan tiga kali lagi sebelum kau memberitahu kalau ini adalah Relikui Kematian. Perlakukan ini dengan hormat, karena ini memang adalah Benda Kekuatan.”
Untuk sesaat wajah Dumbledore menjadi sedih тАж
тАж dan kemudian menyerahkan Jubah itu kembali kepada Harry.
Harry memasukkannya ke dalam kantongnya lagi.
Wajah Dumbledore kembali berubah muram. “Boleh aku bertanya sekali lagi, Harry, kenapa kau bisa jadi tidak mempercayaiku?”
Seketika Harry merasa cukup malu.
“Ada satu catatan bersama Jubah itu,” kata Harry dalam suara kecil. “Katanya kalau kau akan mencoba untuk mengambil Jubah itu dariku, kalau kau tahu. Aku tak tahu siapa yang meninggalkan catatan itu, meski begitu, aku benar-benar tak tahu.”
“Aku тАж paham,” kata Dumbledore perlahan. “Yah, Harry, aku tak akan membantah niat dari siapa pun yang meninggalkan catatan itu untukmu. Siapa yang mengetahuinya kecuali mereka sendiri kalau mereka memiliki niat paling baik? Mereka memang sudah memberimu Jubahnya, pada akhirnya.”
Harry mengangguk, terkesan atas kemurahan hati Dumbledore, dan malu pada perbedaan tajam dengan tindakannya sendiri.
Sang penyihir tua melanjutkan. “Namun kau dan aku berdua adalah buah catur dengan warna yang sama, aku pikir. Anak laki-laki yang akhirnya mengalahkan Voldemort, dan orang tua yang menahannya cukup lama untukmu akhirnya menyelamatkan dunia. Aku tak akan memakai kewaspadaanmu tadi untuk melawanmu, Harry, kita semua harus mencoba sebisa kita untuk menjadi bijak. Aku hanya akan memintamu untuk berpikir dua kali dan merenungkan tiga kali lagi, lain kali seseorang memberitahumu untuk meragukanku.”
“Aku minta maaf,” kata Harry. Dia merasa sangat buruk saat ini, dia baru saja mengusir Gandalf pada dasarnya, dan kebaikan Dumbledore hanya membuatnya semakin merasa buruk. “Aku harusnya tidak meragukanmu.”
“Ah, Harry, dalam dunia ini тАж .” Sang penyihir tua menggeleng kepalanya. “Aku bahkan tak bisa mengatakan kalau kamu tak bijak. Kamu memang tidak mengenalku. Dan kenyataannya ada beberapa di Hogwarts yang akan lebih baik kalau tidak kamu percayai. Bahkan mungkin beberapa kamu panggil teman.”
Harry menelan. Itu terdengar beralamat buruk. “Seperti siapa?”
Dumbledore berdiri dari kursinya, dan mulai memeriksa salah satu instrumennya, satu cakra angka dengan delapan lengan yang memiliki panjang bervariasi.
Setelah beberapa saat, sang penyihir tua berbicara lagi. “Dia mungkin terlihat bagimu sangat menawan,” kata Dumbledore. “SopanтФАpadamu paling tidak. Baik tutur-kata, mungkin bahkan mengagumi. Selalu dengan tangan yang siap menolong, suatu bantuan, sedikit nasihatтФА”
“Oh, Draco Malfoy!” kata Harry, merasa cukup lega bahwa itu bukan Hermione atau apa. “Oh tidak, bukan bukan bukan, anda salah mengerti, dia tidak mengubahku, aku mengubahnya.”
Dumbledore membeku di tempat di mana dia mengintip cakra angka itu. “Kau apa?”
“Aku akan membuat Draco Malfoy berbalik dari Sisi Gelap,” kata Harry. “Kau tahu, membuatnya menjadi orang baik.”
Dumbledore menegakkan diri dan berbalik menghadap Harry. Dia sedang memakai salah satu ekspresi paling tercengang yang Harry pernah lihat ada pada siapa pun, jangankan seseorang dengan jenggot perak panjang. “Apa kau yakin,” kata si penyihir tua setelah beberapa saat, “bahwa dia siap untuk ditebus? Aku takut bahwa apa pun kebaikan yang kamu kira kau lihat di dalam dia hanyalah angan-angan semataтАУatau lebih buruk, iming-iming, umpanтАУ”
“Er, tidak mungkin,” kata Harry. “Maksudku kalau dia mencoba menyamarkan dirinya sendiri sebagai orang baik dia melakukannya dengan sangat buruk. Ini bukanlah pertanyaan tentang Draco mendatangiku dan bertingkah mempesona dan aku memutuskan bahwa dia pasti memiliki inti kebaikan tersembunyi di lubuk hatinya. Aku memilihnya secara spesifik untuk penebusan karena dia adalah pewaris dari Keluarga Malfoy dan kalau aku diharuskan memilih satu orang untuk ditebus, itu jelas dia.”
Mata kiri Dumbledore berkedut. “Kamu bermaksud untuk menanamkan benih cinta dan kebaikan dalam hati Draco Malfoy karena kamu mengharapkan pewaris Malfoy akan bermanfaat bagimu?”
“Bukan hanya untukku!” kata Harry tersinggung. “Untuk seluruh Inggris magis, jika ini berhasil! Dan dia sendiri akan memiliki kehidupan yang lebih behagia dan sehat mental! Lihat, aku tak punya cukup waktu untuk membuat semua orang berbalik dari Sisi Gelap dan aku harus bertanya di mana Cahaya bisa memperoleh keunggulan paling cepatтАУ”
Dumbledore mulai tertawa. Tertawa lebih keras dari yang Harry harapkan, hampir seperti lolongan. Itu jelas terlihat tak terhormat. Penyihir tua dan kuat harusnya tertawa kecil dalam nada rendah menggelegar, bukannya tertawa sebegitu keras sampai dia kehabisan napas. Harry pernah sekali secara harfiah terjatuh dari kursi selagi menonton film Marx Brother berjudul Duck Soup, dan sekeras itulah tawa Dumbledore saat ini.
“Ini tidak selucu itu,” kata Harry setelah beberapa waktu. Dia mulai mengkhawatirkan kewarasan Dumbledore lagi.
Dumbledore kembali mengendalikan dirinya dengan usaha yang kentara. “Ah, Harry satu gejala dari penyakit yang disebut hikmat adalah kamu mulai tertawa atas hal-hal yang tak ada orang lain yang menganggapnya lucu, karena ketika kamu sudah bijaksana, Harry, kamu mulai memahami gurauan-gurauannya!” Sang penyihir tua mengusap air mata dari matanya. “Ah, aku. Ah, aku. Memang kehendak jahat sering dirusak kejahatan, benar-benar memang.”
Otak Harry perlu waktu sejenak untuk mengenali kata-kata tak asing tadi тАж . “Hey, itu kutipan Tolkien! Gandalf mengatakan itu!”
“Theoden, sebenarnya,” kata Dumbledore.
“Anda Muggleborn?” kata Harry dengan terkejut.
“Aku takut tidak,” kata Dumbledore, tersenyum lagi. “Aku terlahir tujuh puluh tahun sebelum buku itu diterbitkan, anakku. Namun sepertinya para murid Mugglebornku cenderung berpikir dengan cara yang serupa dalam beberapa cara. Aku sudah mengumpulkan tidak kurang dari dua puluh salinan dari The Lord of the Rings dan tiga set dari seluruh karya Tolkien, dan aku mamperlakukan masing-masing dengan hormat.” Dumbledore mengeluarkan tongkat sihirnya dan mengangkatnya dan mulai berpose. “Kau tidak bisa lewat! Bagaimana kelihatannya?”
“Ah,” kata Harry dalam sesuatu yang mendekati pemadaman otak total, “Kupikir kamu masih kurang Balrog.” Dan piyama pink itu dan topi jamur gepeng sama sekali tak membantu sedikit pun.
“Aku paham.” Dumbledore menghela napas dan dengan murung memasukkan tongkat sihirnya ke dalam ikat pinggangnya lagi. “Aku takut kalau dulu pernah ada beberapa Balrog berharga di kehidupan lampauku. Hari-hari ini semua hanya pertemuan Wizengamot di mana aku harus mencoba mati-matian untuk mencegah kerja apa pun dari terselesaikan, dan makan malam resmi di mana politisi asing bertanding untuk melihat siapa yang bisa menjadi orang bodoh yang paling keras kepala. Dan menjadi misterius terhadap orang-orang, mengetahui hal-hal yang aku tak punya cara untuk tahu, membuat pernyataan penuh teka-teki yang hanya bisa dipahami dalam perenungan kembali, dan seluruh cara-cara kecil lain yang dari mana para penyihir kuat menghibur diri mereka sendiri setelah mereka meninggalkan begian dari pola yang mengizinkan mereka menjadi pahlawan. Omong-omong, Harry, aku punya sesuatu untuk kuberikan padamu, sesuatu yang merupakan kepunyaan ayahmu.”