Harry melihat ke belakang dan menemukan dirinya melihat kepada Ernie Macmillan, berpakaian dengan cerdas dalam jubah berpotongan kuning dan terlihat sedikit cemas.
“Neville pikir kalau aku harus memperingatkanmu,” kata Ernie dalam suara rendah. “Aku pikir dia benar. Hati-hati terhadap Master Ramuan di dalam sesi kita hari ini. Hufflepuff tahun yang lebih tua mengatakan pada kami kalau Profesor Snape bisa sangat jahat pada orang-orang yang tidak dia sukai, dan dia tidak menyukai kebanyakan orang yang bukan Slytherin. Kalau kamu mencoba mengatakan sesuatu yang pintar padanya тАж itu bisa jadi sangat buruk untukmu, dari apa yang sudah aku dengar. Jaga saja kepalamu tetap di bawah dan jangan berikan padanya alasan apa pun untuk memperhatikanmu.”
Ada jeda saat Harry memproses ini, dan kemudian dia mengangkat alisnya. (Harry berharap kalau dia bisa mengangkat hanya satu alis, seperti Spock, tapi dia tak pernah bisa melakukannya.) “Terima kasih,” kata Harry. “Kau mungkin baru saja menyelamatkanku dari beragam masalah.”
Ernie mengangguk, dan kembali ke meja Hufflepuff.
Harry melanjutkan memakan roti panggangnya.
Dan di sekitar empat gigitan setelahnyalah seseorang berkata “Maafkan aku,” dan Harry berbalik untuk melihat seorang Ravenclaw yang lebih tua, terlihat sedikit cemasтАУ
Beberapa waktu kemudian, Harry sudah menyelesaikan piring irisan ketiganya. (Dia sudah belajar untuk makan berat di waktu sarapan. Dia selalu bisa memakan makanan yang lebih ringan saat makan siang jika dia pada akhirnya tidak suatu saat memakai Time-Turner.) Dan kemudian ada lagi suara lain di belakangnya yang berkata “Harry?”
“Ya,” kata Harry dengan letih, “aku akan mencoba untuk tidak menarik perhatian Profesor SnapeтАУ”
“Oh, itu sia-sia,” kata Fred.
“Sungguh sia-sia,” kata George.
“Jadi kami sudah memerintahkan peri rumah untuk memanggangkanmu satu roti,” kata Fred.
“Kami akan meletakkan satu lilin di atasnya untuk tiap poin yang kamu hilangkan dari Ravenclaw,” kata George.
“Dan mengadakan satu pesta untukmu di meja Gryffindor saat makan siang,” kata Fred.
“Kami harap kalau itu akan menghiburmu setelahnya,” George menyelesaikan.
Harry menelan gigitan terakhir irisannya dan berbalik. “Baiklah,” kata Harry. “Aku tidak akan menanyakan hal ini setelah Profesor Binns, aku benar-benar tidak, tapi jika Profesor Snape memang seburuk itu kenapa dia belum dipecat?”
“Dipecat?” kata Fred.
“Maksudmu, dibiarkan pergi?” kata George.
“Ya,” kata Harry. “Itulah yang kamu lakukan pada guru-guru yang buruk. Kamu memecat mereka. Kemudian kamu pekerjakan guru yang lebih baik sebagai gantinya. Kalian tidak memiliki serikat pekerja atau masa jabatan di sini, benar?”
Fred dan George sedang mengerutkan dahi dalam cara yang sama seperti tetua suku pemburu-peramu akan kerutkan dahi jika kamu mencoba memberitahu mereka tentang kalkulus.
“Aku tak tahu,” kata Fred setelah beberapa saat. “Aku tak pernah memikirkan tentang itu.”
“Aku juga,” kata George.
“Yeah,” kata Harry, “aku sudah sering mendengarnya. Sampai bertemu saat makan siang, guys, dan jangan salahkan aku kalau nanti tidak ada satu pun lilin di roti itu.”
Fred dan George berdua tertawa, seolah Harry sudah mengatakan sesuatu yang lucu, dan membungkuk padanya dan kembali lagi ke arah Gryffindor.
Harry berbalik lagi ke meja sarapan dan meraih satu cupcake. Perutnya sudah terasa penuh, namun dia punya perasaan kalau pagi ini akan menghabiskan banyak kalori.
Saat dia memakan cupcakenya, Harry memikirkan pengajar paling buruk yang sudah dia temui sejauh ini, Profesor Binns di Sejarah. Profesor Binns adalah hantu. Dari apa yang sudah diceritakan oleh Hermione tentang hantu, sepertinya tidak mungkin kalau mereka benar-benar sadar-diri. Tidak ada penemuan terkenal yang dibuat oleh hantu-hantu, atau bahkan hasil original apa pun, tak peduli siapa mereka dalam hidup. Para hantu cenderung memiliki kesulitan untuk mengingat abad saat ini. Hermione sudah mengatakan kalau mereka seperti potret tak sengaja, yang tercetak ke dalam matter sekitar melalui semburan energi cenayang yang menemani kematian tiba-tiba seorang penyihir.
Harry sudah bertemu beberapa guru bodoh selama perampasan yang dibatalkan atas pendidikan MuggleтАУayahnya selalu jauh lebih pilih-pilih saat memilih lulusan mahasiswa sebagai tutor, tentu sajaтАУnamun kelas Sejarah adalah pertama kalinya dia bertemu seorang guru yang secara harfiah tidak memiliki kesadaran.
Dan itu terlihat, juga. Harry sudah menyerah setelah lima menit dan mulai membaca buku pelajaran. Ketika sudah jelas kalau “Profesor Binns” tidak akan keberatan, Harry juga meraih kantongnya dan memakai penyumpal telinga.
Apakah para hantu membutuhkan gaji? Apa itu? Ataukah secara harfiah tidak mungkin memecat siapapun dari Hogwarts bahkan kalaupun mereka sudah mati?
Sekarang sepertinya Profesor Snape akan berlaku benar-benar jahat para tiap orang yang bukan seorang Slytherin dan bahkan belum terlintas di pikiran siapapun untuk mengakhiri kontraknya.
Dan sang Kepala Sekolah sudah menyulut api pada seekor ayam.
“Permisi,” datang satu suara khawatir dari belakangnya.
“Aku bersumpah,” kata Harry tanpa berbalik, “tempat ini hampir delapan setengah persen sama buruknya dengan apa yang Dad katakan tentang Oxford.”
*
Harry merentakkan kaki di koridor batu, terlihat tersinggung, jengkel, dan murka seluruhnya secara bersamaan.
“Dungeon!” Harry mendesis. “Dungeon! Ini bukan dungeon! Ini basement! Basement!”
Beberapa gadis Ravenclaw memberinya pandangan aneh. Para anak laki-laki sudah terbiasa dengan dia sekarang.
Sepertinya dalam tingkat di mana ruang kelas Ramuan terletak disebut sebagai “dungeon” untuk alasan yang tidak lebih baik daripada karena itu berada di bawah permukaan tanah dan sedikit lebih dingin daripada kastil utama.
Di Hogwarts! Di Hogwarts! Harry sudah menunggu sepanjang hidupnya dan sekarang dia masih menunggu dan jika memang ada tempat di muka Bumi yang memiliki dungeon yang layak itu harusnya adalah Hogwarts! Apakah Harry harus membangun kastilnya sendiri kalau dia ingin melihat satu ‘jurang maut tanpa dasar’ kecil?
Sesaat kemudian mereka sampai pada ruang kelas Ramuan yang sebenarnya dan Harry cukup terhibur.
Ruang kelas Ramuan itu memiliki makhluk-makhluk aneh yang diawetkan mengambang dalam tabung-tabung gelas di rak-rak yang menutupi tiap sentimeter ruang dinding di antara lemari-lemari. Harry sudah sampai cukup jauh dalam pembacaannya sekarang hingga dia sungguh bisa mengenali beberapa makhluk, seperti Zabriskan Fontema. Meskipun laba-laba lima puluh sentimeter terlihat seperti seekor Acromantula namun itu terlalu kecil untuk itu. Dia mencoba untuk bertanya pada Hermione, namun dia sepertinya sangat tidak tertarik melihat ke arah mana pun Harry menunjuk.
Harry sedang melihat bola debu besar yang memiliki mata dan kaki ketika sang pembunuh memasuki ruangan.
Itulah pikiran pertama yang melintasi pikiran Harry ketika dia melihat Profesor Severus Snape. Ada sesuatu yang sunyi dan mematikan tentang cara pria itu mengintai di antara meja anak-anak itu. Jubahnya berantakan, rambutnya kotor dan berminyak. Ada sesuatu tentangnya yang seperti mengingatkan pada Lucius, walau keduanya terlihat sama sekali tidak serupa, dan kau akan memperoleh kesan bahwa di mana Lucius akan membunuhmu dengan keanggunan tanpa cela, pria ini hanya akan membunuhmu.
“Duduk,” kata Profesor Severus Snape. “Sekarang.”
Harry dan beberapa anak lain yang sedang berdiri berbicara satu sama lain bergegas mencari meja. Harry berencana untuk duduk di sebelah Hermione namun entah bagaimana dia menemukan dirinya duduk di meja kosong terdekat di sebelah Justin Finch-Fletchley (ini adalah sesi Ganda, Ravenclaw dan Hufflepuff) yang menempatkannya dua meja di kiri Hermione.
Severus mendudukkan dirinya di belakang meja guru, dan tanpa sedikit pun peralihan atau perkenalan, berkata, “Hannah Abbott.”
“Di sini,” kata Hannah dalam suatu suara yang bergetar.