Выбрать главу

Dia membungkuk, memperhatikan wajah yang kaku. Lalu, dengan cepat dia menarik wig di kepala Tuan Hakim. Benda itu jatuh ke lantai, menunjukkan dahi yang botak dengan noda bulat di tengahnya bekas sesuatu yang pernah meledak.

Dokter Armstrong mengangkat tangan yang telah mati dan merasakan nadinya. Kemudian dia menoleh kepada yang lain.

Dia berkata — dengan suara lemah tak bergairah,

Dia di tembak…”

Blore berkata,

“Tuhan, pestol itu!”

Tuan Dokter berkata, masih dengan nada yang sama,

“Kena di kepalanya. Tewas seketika.”

Vera membungkuk melihat wig yang jatuh. Dia berkata dengan suara ngeri,

Benang wool Nona Brent yang hilang…”

Blore berkata,

“Dan tirai merah yang hilang dari kamar mandi…”

Vera berbisik,

“Jadi mereka mengambil untuk ini…”

Tiba-tiba Philip Lombard tertawa — tawa yang melengking tinggi dan tidak wajar.

Lima anak Negro ke pengadilan; seorang ke kedutaan, tinggal empat. Itulah akhir Tuan Justice Wargrave si Penumpah Darah. Tidak ada lagi yang menjatuhkan hukuman. Tidak ada lagi permainan topi hitam! Di sinilah saat terakhir dia duduk di kursi hakim! Tidak bisa lagi mengirim orang yang tidak berdosa pada kematian. Edward Seton pasti tertawa kalau dia ada di sini! Tuhan, dia pasti tertawa terpingkal-pingkal!”

Ledakan suaranya mengejutkan yang lain.

Vera berteriak,

“Baru tadi pagi Anda mengatakan dialah orangnya.”

Muka Philip Lombard berubah tenang.

Dia berkata dengan suara rendah,

“Betul. Ya, saya salah. Seorang lagi dari kita yang terbukti tak berdosa — terlambat!”

Bab empat belas

I

Mereka telah mengangkat Tuan Justice Wargrave ke kamarnya dan meletakkannya di atas tempat tidur.

Lalu mereka turun lagi dan berdiri di ruang besar saling berpandangan.

Blore berkata dengan berat,

“Apa yang akan kita lakukan sekarang?”

Lombard berkata dengan cepat,

“Makan sesuatu. Kita harus makan.”

Sekali lagi mereka masuk dapur. Dan mereka membuka kaleng lidah lagi. Mereka makan dengan cepat, hampir tanpa dirasakan.

Vera berkata,

“Saya tidak akan makan lidah lagi.”

Mereka mengakhiri makan. Mereka duduk di meja dapur, saling memandang.

Blore berkata,

“Hanya empat orang sekarang… Giliran siapa berikutnya?”

Armstrong menatapnya. Dia berkata secara otomatis,

“Kita harus sangat waspada — “ dan berhenti.

Blore mengangguk.

“Itulah yang dikatakannya… dan sekarang dia mati”’

Armstrong berkata,

“Bagaimana hal itu terjadi?”

Lombard menyumpah. Dia berkata,

“Pancingan yang cerdik sekali, sialan! Gurita yang digantung di atas kamar Nona Claythorne itu memang sesuai dengan rencana. Setiap orang berlari karena berpikir dia sedang dibunuh. Lalu — dalam suasana panik — seseorang — menyerang laki-laki tua itu.”

Blore berkata,

“Mengapa tidak ada yang mendengar suara tembakan?”

Lombard menggelengkan kepala.

“Nona Claythorne menjerit, angin menderu, kita berlari-lari dan berteriak. Ya, tembakan itu tidak akan terdengar.”

Dia berhenti. “Tapi tipuan itu tidak akan berhasil lagi. Dia akan mencoba sesuatu yang lain.”

Blore berkata,

“Mungkin.”

Ada nada tidak enak dalam suaranya. Kedua laki-laki itu saling memandang.

Armstrong berkata,

“Salah satu dari kita berempat, dan kita tidak tahu siapa…”

Blore berkata,

Saya tahu…

Vera berkata,

“Saya tidak ragu-ragu sedikit pun…”

Armstrong berkata perlahan-lahan,

“Saya rasa saya juga tahu…

Philip Lombard berkata,

“Saya punya pendapat yang baik…”

Sekali lagi, mereka saling berpandangan.

Vera berdiri. Dia berkata,

“Saya merasa tidak enak. Saya harus tidur. Saya benar-benar lelah.”

Lombard berkata,

“Saya juga. Tidak enak duduk-duduk saling berpandangan.”

Blore berkata,

Saya tidak berkeberatan…”

Dokter bergumam,

“Itu yang paling baik untuk dilakukan walaupun saya tidak yakin apakah kita akan bisa tidur.”

Mereka berjalan ke pintu. Blore berkata,

Saya ingin tahu di mana pestol itu sekarang?”

II

Mereka naik ke lantai atas.

Tindakan mereka selanjutnya seperti salah satu babak lelucon.

Masing-masing berdiri dengan tangan memegang handel pintu dalam kamarnya. Tidak seorang pun. Kemudian seperti mendapat isyarat, setiap orang melangkah masuk kamar dan menutup pintu. Lalu terdengar bunyi pintu dikunci dan digerendel, serta derit kursi atau meja yang diangkat.

Empat orang yang ketakutan mempertahankan diri sampai pagi hari.

III

Philip Lombard menarik napas lega ketika dia telah mengganjalkan kursi pada pintu kamarnya.

Dia melangkah ke meja rias.

Dalam cahaya lilin yang remang-remang dia memperhatikan wajahnya.

Dia berkata dengan lembut pada dirinya sendiri,

“Ya, masalah ini membualmu terkoyak-koyak.”

Senyum serigala menghiasi wajahnya.

Dia membuka baju dengan cepat.

Dia melangkah ke tempat tidur dan meletakkan jam tangannya di atas meja dekat tempat tidurnya.

Lalu dia membuka laci meja itu..

Dia berdiri tertegun, memandang pestol yang ada di dalamnya…

IV

Vera Claythorne berbaring di tempat tidurnya.

Lilin menyala di sisinya.

Tetapi dia tidak punya keberanian untuk mematikannya.

Dia takut pada kegelapan…

Dia menguatkan dirinya. “Engkau selamat sampai pagi nanti. Tidak ada apa-apa tadi malam. Tidak ada apa-apa malam ini. Tidak ada apa-apa. Tidak seorang pun bisa datang kepadamu.”

Dan tiba-tiba dia berkata.

“Tentu saja! Aku bisa tinggal di sini! Tinggal terkunci di sini! Tidak perlu makan!

Aku bisa tinggal di sini dengan aman — sampai datang pertolongan! Walaupun sehari — atau dua hari tinggal di sini. Ya, tapi bisakah dia tinggal di sini? Berjam-jam tanpa teman bicara, tanpa melakukan sesuatu kecuali berpikir.

Dia mulai berpikir tentang Cornwall — tentang Hugo — tentang apa yang dikatakannya kepada Cyril.

Anak kecil manja dan cengeng, yang selalu merengek-rengek kepadanya…

“Nona Claythorne, mengapa saya tidak boleh berenang ke karang? Saya bisa. Saya pasti bisa.”

Apakah suaranya sendiri yang menjawab?

“Tentu saja, Cyril, engkau bisa. Saya percaya engkau bisa.”

“Kalau begitu bolehkah saya ke sana, Nona Claythorne?”

“Cyril, ibumu akan kuatir. Coba dengar. Besok engkau boleh berenang ke karang. Saya akan bercakap-cakap dengan ibumu di pantai supaya dia tidak memperhatikan engkau. Dan kemudian, ketika dia mencarimu, engkau sudah ada di atas karang melambai-lambaikan tangan kepadanya. Ini akan merupakan kejutan baginya.”

“Oh, terima kasih, Nona Claythorne! Akan menyenangkan sekali!”

Dia mengatakannya hari itu! Besok pagi! Hugo akan pergi ke Newquay. Bila dia datang — semuanya beres.